Kehadiran Si Kecil tentu menjadi momen yang paling membahagiakan bagi setiap orang tua. Namun di balik rasa syukur itu, tak jarang muncul berbagai kekhawatiran baru, terutama saat dokter menyampaikan bahwa Si Kecil mengalami sklera ikterik. Mendengar istilah medis yang terdengar asing ini, banyak Moms langsung merasa cemas dan bertanya-tanya, "Apakah kondisi ini berbahaya? Apakah bayi saya baik-baik saja?"
Tenang, Moms. Pada banyak bayi baru lahir, sklera ikterik merupakan kondisi yang cukup sering terjadi dan sebagian besar masih termasuk normal. Yang terpenting adalah memahami penyebabnya, mengetahui mana yang masih bisa dipantau di rumah, dan mengenali tanda-tanda yang membutuhkan penanganan dokter agar Si Kecil mendapatkan perawatan yang tepat sejak dini.
Apa Itu Sklera Ikterik?
Sklera ikterik adalah istilah yang digunakan ketika bagian putih mata (sklera) tampak menguning. Warna kuning ini sebenarnya terjadi karena meningkatnya kadar bilirubin dalam darah. Bilirubin merupakan zat berwarna kuning yang dihasilkan saat tubuh memecah sel darah merah. Pada bayi baru lahir, kondisi ini sering kali berkaitan dengan penyakit kuning atau jaundice, tetapi sklera ikterik secara khusus hanya mengacu pada perubahan warna di bagian mata.
Moms mungkin juga mendengar istilah jaundice atau ikterus. Bedanya, jaundice adalah istilah umum untuk kulit dan mata yang tampak menguning akibat kadar bilirubin yang tinggi, sedangkan sklera ikterik hanya menjelaskan perubahan warna kuning yang terlihat pada bagian putih mata. Meski terdengar mengkhawatirkan, pada bayi baru lahir kondisi ini sering kali merupakan bagian dari proses adaptasi tubuh setelah lahir.
Mengapa Sklera Ikterik Terjadi pada Bayi Baru Lahir?
Pada bayi baru lahir, sklera ikterik umumnya muncul karena hati Si Kecil masih dalam tahap belajar bekerja secara optimal. Setelah lahir, tubuh bayi memecah lebih banyak sel darah merah dibandingkan orang dewasa sehingga menghasilkan bilirubin dalam jumlah yang cukup tinggi. Sementara itu, fungsi hati yang belum matang membuat bilirubin belum bisa dibuang dengan cepat. Akibatnya, bilirubin menumpuk di dalam darah dan menyebabkan kulit maupun bagian putih mata tampak menguning.
Kondisi sklera ikterik ini sangat umum ditemukan pada newborn dan tidak selalu menandakan adanya penyakit serius. Namun, Moms tetap perlu mengetahui apakah kondisi tersebut termasuk ikterus fisiologis yang normal atau justru ikterus patologis yang memerlukan penanganan medis.
Jenis-Jenis Sklera Ikterik pada Bayi Baru Lahir
1. Ikterus Fisiologis (Normal)
Sebagian besar kasus sklera ikterik pada bayi baru lahir termasuk ikterus fisiologis. Kondisi ini biasanya mulai terlihat pada hari ke-2 hingga ke-3 setelah kelahiran, mencapai puncaknya di hari ke-3 sampai ke-5, lalu berangsur membaik dalam waktu 1-2 minggu tanpa penanganan khusus.
Hal ini terjadi karena hati Si Kecil sedang beradaptasi untuk memproses bilirubin dengan lebih baik. Selama bayi tetap aktif menyusu, berat badan bertambah sesuai usia, dan dokter menyatakan kadar bilirubinnya masih dalam batas aman, Moms umumnya tidak perlu terlalu khawatir.
2. Ikterus Patologis (Tidak Normal)
Berbeda dengan kondisi sebelumnya, sklera ikterik akibat ikterus patologis memerlukan perhatian lebih karena dapat menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang mendasari.
Beberapa ciri yang perlu diwaspadai antara lain:
- Sklera ikterik muncul dalam 24 jam pertama setelah bayi lahir.
- Kadar bilirubin sangat tinggi.
- Warna kuning bertahan lebih dari 14 hari.
- Bayi tampak malas menyusu, lemas, atau mengalami demam.
Ikterus patologis dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, seperti ketidakcocokan golongan darah ibu dan bayi (ABO atau Rhesus), infeksi, kekurangan enzim tertentu, hingga gangguan kesehatan lainnya. Karena itu, pemeriksaan dokter sangat penting untuk mengetahui penyebab pastinya.
Kapan Moms Harus Waspada?
Sebagian besar kasus sklera ikterik memang akan membaik dengan sendirinya. Namun, bila kadar bilirubin terlalu tinggi dan terlambat ditangani, kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi yang serius.
Kadar bilirubin yang sangat tinggi dapat masuk ke jaringan otak dan menyebabkan kernikterus, yaitu kerusakan otak permanen yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang Si Kecil.
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain:
- Gangguan pendengaran atau tuli.
- Cerebral palsy yang mempengaruhi gerakan tubuh.
- Keterlambatan perkembangan motorik.
- Gangguan belajar di kemudian hari.
Karena itu, sklera ikterik sebaiknya tidak dianggap sepele. Pemeriksaan sejak dini membantu dokter menentukan apakah kondisi ini masih aman dipantau atau membutuhkan terapi. Segera bawa Si Kecil ke dokter atau fasilitas kesehatan apabila sklera ikterik disertai salah satu tanda berikut:
- Warna kuning muncul dalam 24 jam pertama setelah lahir.
- Warna kuning menyebar hingga telapak tangan dan telapak kaki.
- Bayi malas menyusu atau sulit dibangunkan.
- Urine tampak pekat dan feses berwarna pucat.
- Bayi sangat lemas, rewel terus-menerus, atau mengalami kejang.
- Warna kuning tidak membaik atau justru semakin jelas setelah usia 14 hari.
Semakin cepat sklera ikterik diperiksa, semakin besar peluang Si Kecil mendapatkan penanganan yang tepat sebelum menimbulkan komplikasi.
Merawat Bayi dengan Sklera Ikterik
Saat mengetahui Si Kecil mengalami sklera ikterik, wajar jika Moms merasa cemas. Kabar baiknya, banyak kasus dapat membaik dengan perawatan yang tepat sesuai anjuran dokter. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan.
Pastikan Si Kecil Mendapatkan ASI yang Cukup
Pada bayi dengan sklera ikterik, menyusui secara eksklusif sekitar 8-12 kali sehari sangat dianjurkan. ASI membantu memperlancar buang air besar sehingga bilirubin dapat lebih cepat dikeluarkan melalui feses. Semakin sering Si Kecil menyusu, umumnya semakin baik proses pembuangan bilirubin dari tubuhnya.
Fototerapi Bila Diperlukan
Jika kadar bilirubin cukup tinggi, dokter mungkin akan menyarankan fototerapi. Pada terapi ini, bayi akan mendapatkan paparan sinar biru khusus yang membantu mengubah bilirubin menjadi bentuk yang lebih mudah dikeluarkan melalui urine dan feses. Fototerapi merupakan salah satu penanganan yang efektif untuk sklera ikterik dengan kadar bilirubin tinggi dan dilakukan di bawah pengawasan tenaga medis.
Menjemur Bayi dengan Bijak
Sebagian orang tua memilih menjemur bayi yang mengalami sklera ikterik pada pagi hari. Paparan sinar matahari pagi memang dapat membantu, tetapi bukan merupakan terapi utama bila bilirubin sudah tinggi. Jika ingin melakukannya, cukup sekitar 10-15 menit sebelum pukul 09.00 pagi, hindari paparan langsung terlalu lama, dan pastikan area mata Si Kecil tetap terlindungi.
Maksimalkan Waktu Istirahat
Saat sklera ikterik masih dalam masa pemantauan, Si Kecil membutuhkan waktu istirahat yang cukup agar tubuhnya dapat beradaptasi dengan baik. Selain rutin menyusui, mengikuti jadwal kontrol ke dokter, dan memberikan pelukan hangat, Moms juga bisa mendukung kenyamanan Si Kecil dengan memilih popok yang membantu menjaga kulitnya tetap kering. Kulit yang nyaman membuat Si Kecil lebih leluasa beristirahat, sehingga waktu tidur dan menyusunya tidak mudah terganggu.
Untuk mendukung kenyamanan tersebut, Moms bisa memilih Merries Premium Pants yang memiliki permukaan lembut dan dilengkapi dengan 5,5+ miliar pori sirkulasi udara serta terowongan udara di bagian pinggang yang membantu melepaskan udara lembab dari dalam popok.
Permukaan bergelombangnya juga membantu mengurangi kontak langsung antara kulit dengan kotoran lunak, sementara daya serapnya yang cepat membantu mengunci pipis sehingga permukaan popok tetap terasa kering. Ditambah karet pinggang yang dapat meregang hingga 2,5 kali, Merries Premium Pants tetap nyaman mengikuti setiap gerakan Si Kecil tanpa terasa sesak. Moms pun lebih mudah mengetahui kapan popok perlu diganti berkat indikator pipis yang tersedia.
Dengan pilihan popok yang tepat, Si Kecil dapat memaksimalkan waktu istirahatnya agar segera pulih. Dapatkan segera Merries Premium Pants di sini.